Bulughul marom dengan Syarah Subulussalam. Bab 16: menghidupkan tanah yang mati
Bulughul marom dengan Syarah Subulussalam. Bab 16: menghidupkan tanah yang mati. 1. Barang siapa yang memakmurkan tanah yang mati dengan menanamnya ataupun membuat batasan atau patok patok dll maka tanah itu menjadi milik dia, dan yang dimaksud tanah yang mati yaitu tanah yang tidak dimiliki seorangpun (dengan jual beli, pemberian atau warisan dll) atau tidak dikhususkan (seperti untuk jalan, halaman halaman, lapangan lapangan ataupun aliran sungai dll).
Bulughul marom dengan Syarah Subulussalam. Bab 16: menghidupkan tanah yang mati. 2. Tidak ada tanah yang dilarang atau dilindungi kecuali untuk Alloh dan Rosul Nya, seperti tanah yang digunakan untuk menggembalakan onta untuk sedekah, masuk juga hutang lindung dan semisalnya. Demikian juga apa yang nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wassalam menjadikan tanah itu larangan maka tidak boleh dirubah rubah, sebagai mana Umar bin Khattab rodhiyallohu 'anhu menjadi tanah di robadzah menjadi tempat yang dilindungi.
Bulughul marom dengan Syarah Subulussalam. Bab 16: menghidupkan tanah yang mati. 3. Tidak boleh perbuatan yang berbahaya dan tidak boleh membahayakan orang lain atau tidak boleh membalas bahaya yang dilakukan orang lain dengan melampaui batas. Barang siapa yang menggali sumur tidak boleh disamping tetangganya yang menyebabkan sumur tetangganya mati demikian juga seperti sumur artetis, ada yang mengatakan jarak nya antara dua sumur 20 meteran.
Bulughul marom dengan Syarah Subulussalam. Bab 16: menghidupkan tanah yang mati. 4. Boleh seorang pemimpin memotong tanah atau memberikan tanah kepada seseorang yang dianggap mampu, dan bentuknya bisa berupa tiga macam yaitu untuk dimiliki, atau dimanfaatkan kemudian dikembalikan, atau untuk tempat jual beli di pasar. Manusia bersekutu di dalam tiga perkara yaitu semak belukar, air dan api. Selesai bab ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar