Laman

Senin, 04 Juli 2016

Syarh Arba'in An Nawawiyah - Hadist 1 - 4

بِسْمِ اللّهِ الرَّحمنِ الرَّحيمِ

إِنَّ الحمدَ للّه، نحمدُه ونستعينُه ونستغفرُه، ونعوذُ باللّه من شرور أنفسِنا ومن سيِّئات أعمالِنا، من يهده الله فلا مُضِلَّ له، ومن يضلِلْ فلا هادي له، وأشهد أنْ لا إِله إِلا الله وحده لا شريكَ له، وأشهد أنَّ محمداً عبده ورسوله.
"يا أيُّها الذينَ آمنوا اتَّقوا اللّه حقَّ تُقاتِه ولا تَموتُنَّ إلا وأنتُم مُسلمونَ " .
"يا أيها الناس اتَّقوا ربكم الذي خَلَقَكُم من نفسٍ واحدةٍ وخلقَ منها زوجَها وبَثَّ منهُما رِجالاً كثيراً ونساءً واتَّقوا الله الذي تساءَلونَ به والأرْحامَ إِنَّ اللّه كانَ عليكم رَقيباً"
"يا أيها الذينَ آمنوا اتَقوا اللّه وقولوا قولاً سَديداً. يُصْلحْ لكُم أعْمالَكم ويَغْفِرْ لكم ذُنوبكم ومَن يُطِع اللّه ورَسولَه فقد فازَ فوزاً عَظيماً" .
"أما بعدُ؛ فإن أصدقَ الحديثِ كتابُ اللّه، وأحسنَ الهديِ هديُ محمدٍ - صلى الله عليه وسلم -، وشر الأمورِ محدثاتها، وكلَّ محدثةٍ بدعةٌ ، وكل بدعة ضلالةٌ ، وكل ضلالةٍ في النار.

Terjemah Arbain an- Nawawiyah

 dan penjelasannya.

Hadist No : 1
الحديث الأول
[ عن أمير المؤمنين أبي حفص عمر بن الخطاب رضي الله تعالى عنه قال : سمعت رسول الله صلى الله تعالى عليه وعلى آله وسلم يقول : إنما الأعمال بالنيات وإنما لكل امرئ ما نوى فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله ومن كانت هجرته لدنيا يصيبها أو امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه ]
رواه إماما المحدثين : أبو عبدالله محمد ابن إسماعيل بن إبراهيم بن المغيرة بن بردزبه البخاري وأبو الحسين مسلم ابن الحجاج بن مسلم القشيري النيسابوري : في صحيحيهما اللذين هما أصح الكتب المصنفة. 

Dari pemimpinnya kaum mukminin Abu hafs Umar bin al-khothob semoga Alloh meridhoinya beliau berkata : aku mendengar Rosulullohi shalollohu 'alaihi wasalam berkata :”sesungguhnya setiap amalan itu tergantung dari niatnya, dan sesungguhnya setiap orang tergantung dari apa yang dia niatkan. Maka barangsiapa yang berhijrah kepada Alloh dan Rasul Nya maka hijrahnya adalah kepada Alloh dan Rasul Nya, dan barangsiapa yang berhijrah untuk mendapatkan bagian duniawi yang dia usahakan atau untuk mendapatkan perempuan yang ingin dia nikahi maka hijrahnya adalah kepada apa-apa yang dia berhijrah padanya.” Diriwayatkan oleh dua orang imam dari para ulama ahlul hadits : Abu abdillah Muhammad bin ismail bin ibrohim bin almughiroh bin bardizbah al-bukhory, dan Abul Husain Muslim bin alhajaj bin muslim al-qusyairy an-naisabury, didalam kedua buku shohih beliau berdua, yang mana kedua buku itu adalah sebenar-benar buku yang pernah ditulis manusia. 
****shohih Al bukhory no. 1, shohih Muslim no. 1907. 

Berkata imam Ibnu rojab al-hambaly (14) : sepakat para ulama atas shohihnya hadits ini dan mereka menerimanya dengan sempurna, dan bahkan al-bukhory memulai shohih-nya dengan hadits ini sebagai pembukaan bukunya, sebagai isyarat darinya bahwa setiap amalan yang tidak dimaksudkan untuk mendapatkan wajah Alloh, maka akan batal, tidak ada buahnya baik di dunia ataupun di akherat. 

Diriwayatkan dari imam Syafi’iy bahwa beliau berkata :hadits ini adalah sepertiga dari ilmu dan masuk didalam tujuh puluh bab didalam permasalahan fiqih. Demikian juga imam Ahmad bin hambal mengatakan :landasan islam terkumpul didalam tiga hadits yaitu hadits Umar rodhiyallohu 'anhu sesungguhnya setiap amalan itu tergantung dari niatnya, hadits Aisyah rodhiyallohu 'anha barangsiapa yang melakukan perbuatan yang baru didalam perkara kami (yakni perkara agama) yang tidak termasuk dari perkara tersebut, maka hal itu tertolak, dan hadits An-nu’man bin basyir rodhiyallohu 'anhuma berkata : sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang harom itu jelas. 

Berkata Syaih Utsaimin rohimahullohu Ta’ala (41) : ketahuilah sesungguhnya niat itu tempatnya adalah di hati, dan tidak boleh diucapkan secara mutlak, karena engkau menyembah dzat yang mengetahui mata-mata yang berkhianat dan apa-apa yang disembunyikan oleh hati, dan Alloh ta’ala mengetahui segala sesuatu yang ada didalam hati hamba-hambanya…oleh karena itu tidak pernah disebutkan bahwa Rosulullohi shalollohu 'alaihi wasalam demikian juga para shohabatnya rodhiyallohu 'anhum melafadzkan /mengucapkan niat. Oleh karena itu hal tersebut termasuk bid’ah yang terlarang, baik yang dipelankan atau yang dikeraskan. Berkata Syaih Sholeh Alu Syaih Hafidzohullohu Ta’ala (574) : berhijrah kepada Alloh Jalla wa ‘ala adalah dengan ikhlas (didalam beramal) dan mengharapkan apa- apa yang di sisi- Nya, adapun berhijrah kepada Nabi adalah dengan mengikutinya shalollohu 'alaihi wasalam dan senang dengan apa- apa yang dibawa oleh Nabi shalollohu 'alaihi wasalam.

Hadist No : 2

الحديث الثاني
[ عن عمر رضي الله تعالى عنه أيضا قال : بينما نحن جلوس عند رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم ذات يوم إذ طلع علينا رجل شديد بياض الثياب شديد سواد الشعر لا يرى عليه أثر السفر ولا يعرفه منا أحد حتى جلس إلى النبي صلى الله عليه وآله وسلم فأسند ركبتيه إلى ركبتيه ووضع كفيه على فخذيه وقال : يا محمد أخبرني عن الإسلام فقال رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم : الإسلام أن تشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله وتقيم الصلاة وتؤتي الزكاة وتصوم رمضان وتحج البيت إن استطعت إليه سبيلا قال : صدقت فعجبنا له يسأله ويصدقه قال : فأخبرني عن الإيمان قال أن تؤمن بالله وملائكته وكتبه ورسله واليوم الآخر وتؤمن بالقدر خيره وشره قال : صدقت قال : فأخبرني عن الإحسان قال أن تعبد الله كأنك تراه فإن لم تكن تراه فإنه يراك قال : فأخبرني عن الساعة قال ما المسئول عنها بأعلم من السائل قال : فأخبرني عن أماراتها قال أن تلد الأمة ربتها وأن ترى الحفاة العراة العالة رعاء الشاء يتطاولون في البنيان ثم انطلق فلبثت مليا ثم قال يا عمر أتدري من السائل ؟ قلت : الله ورسوله أعلم قال فإنه جبريل أتاكم يعلمكم دينكم ] رواه مسلم

Dari hadits Umar rodhiyallohu 'anhu juga, beliau berkata : ketika kami duduk duduk bersama Rosululloh shalollohu 'alaihi wasalam pada suatu hari, tiba-tiba muncul dihadapan kami seseorang yang sangat putih pakaiannya, sangat hitam rambutnya, tidak ada tanda-tanda habis bepergian, dan tidak ada yang mengenal dia seorangpun diantara kami. Kemudian dia duduk dihadapan Nabi shalollohu 'alaihi wasalam sambil menempelkan lutut dia ke lutut Nabi shalollohu 'alaihi wasalam, dan meletakkan kedua telapak tangan dia ke kedua paha dia, dan berkata : “wahai Muhammad beritahukanlah kepadaku apa itu al-islam”, maka rosulullohi shalollohu 'alaihi wasalam menjawab :” al-islam adalah engkau bersyahadat bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Alloh dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Alloh, dan engkau menegakkan sholat , dan membayar zakat, dan berpuasa di bulan Romadhon, dan pergi berhaji ke al-bait (al-harom) apabila engkau mampu melakukannya”, kemudian dia berkata : “engkau benar”, maka kami merasa heran terhadap dia, karena dia yang bertanya kemudian dia sendiri yang menyatakan benar. Lalu dia berkata lagi : “beritahukanlah kepadaku apa itu al-iman”, maka rosulullohi shalollohu 'alaihi wasalam menjawab :” al-iman adalah engkau beriman kepada Alloh, kepada malaikatNya , kepada kitab-kitabNya, kepada utusan-utusanNya, kepada adanya hari akhirat, dan engkau beiman kepada takdir yang baik ataupun yang buruk”, kemudian dia berkata : “engkau benar”, kemudian dia berkata :”beritahukanlah kepadaku apa itu al-ihsan”, maka Rosulullohi shalollohu 'alaihi wasalam menjawab :”engkau menyembah kepada Alloh seakan-akan engkau melihatNya, apabila engkau tidak mampu melihatNya, sesunggahnya Dia melihatmu”. ”, kemudian dia berkata :”beritahukanlah kepadaku apa itu as-sa’ah (yakni hari kiamat)”, maka Rosulullohi shalollohu 'alaihi wasalam menjawab :”tidaklah orang yang ditanya lebih tahu dari orang yang bertanya”. ”, kemudian dia berkata :”beritahukanlah kepadaku apa itu tanda-tanda (hari kiamat)”, maka Rosulullohi shalollohu 'alaihi wasalam menjawab :” apabila budak perempuan melahirkan tuannya, dan apabila engkau melihat orang yang tidak memakai alas kaki, dan juga telanjang serta miskin yang menggembala kambing lalu kemudian bertinggi-tinggi/ bermewah-mewah didalam bangunan”. Kemudian dia pergi, dan aku menunggu beberapa saat, kemudian Rosulullohi shalollohu 'alaihi wasalam berkata :”wahai Umar apakah engkau tahu siapa yang bertanya itu?” maka aku katakan :” Alloh dan rosulNya yang lebh tahu”. Maka Nabi shalollohu 'alaihi wasalam berkata :”sesungguhnya dia adalah malaikat Jibril, datang kepada kalian dan mengajari kalian tentang perkara-perkara agama kalian”. (diriwayatkan oleh imam Muslim) ***shohih Muslim no. 8. 

Berkata Syaih Utsaimin rohimahullohu Ta’ala (65) : kalimat (dan meletakkan kedua telapak tangan dia) yakni kedua telapak tangan laki- laki ini (malaikat Jibril). Kalimat (ke kedua paha dia) yakni kedua paha laki-laki ini (malaikat Jibril) dan bukan kedua paha Nabi shalollohu 'alaihi wasalam. Ini semua menunjukkan bentuk penghormatan yang sungguh- sungguh. 

Berkata Al Imam Ibnu Rojab al-hambaly rohimahullohu Ta’ala (14) : kata islam dan iman apabila dipisahkan maka maknanya sama yakni islam adalah iman dan iman adalah islam. Adapun apabila digabungkan islam dengan iman maka makna keduanya ada perbedaan. Adapun iman maka berkaitan dengan pembenaran dan penetapan serta pengetahuan yang ada didalam hati, sedangkan islam adalah tunduk dan patuh serta taatnya hamba kepada Alloh dalam bentuk amalan badan. 

Berkata Syaih Utsaimin rohimahullohu Ta’ala (77) : Iman menurut bahasa adalah penetapan yang diikuti dengan menerima dan tunduk, dan definisi ini sesuai dengan syariat. Adapun definisi iman menurut bahasa berarti membenarkan (saja), maka hal ini adalah tidak benar. 

Berkata Syaih Utsaimin rohimahullohu Ta’ala (584): bisa dikatakan seseorang menjadi seorang muslim walaupun tidak didapatkan pada diri dia sebagian dari rukun- rukun islam, dan tidak bisa dikatakan seseorang sebagai seorang mukmin apabila tidak didapatkan pada diri dia sebagian dari rukun- rukun iman. Oleh karena itu maka rukun iman ada enam yang wajib dipenuhi semuanya, yang tidah sah keislaman seseorang tanpanya. 

Berkata Syaih Utsaimin rohimahullohu Ta’ala (584): perkataan nabi shalollohu 'alaihi wasalam “dan beriman kepada takdir (Alloh) baik yang bagus ataupun yang jelek”. Makna kejelekan disini adalah dari sisi menyandarkan takdir kepada pelakunya, adapun perbuatan Alloh Ta’ala maka tidak ada didalamnya kejelekan sedikitpun, sebagaimana disebutkan didalam hadits :“ dan kejelekan tidaklah ditujukan kepada engkau”. 

Berkata Syaih Utsaimin rohimahullohu Ta’ala (591) : para ulama membagi tanda- tanda hari kiamat menjadi dua, kubro /besar dan shughro /kecil. Adapun yang disebutkan didalam hadits ini adalah tanda kiamat sughra, dan alamat- alamat ini tidak menunjukkan pujian ataupun celaan.



Hadist No : 3

الحديث الثالث [ عن أبي عبد الرحمن عبد الله بن عمر بن الخطاب رضي الله تعالى عنهما قال : سمعت رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم يقول : بني الإسلام على خمس : شهادة أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله وإقام الصلاة وإيتاء الزكاة وحج البيت وصوم رمضان ] رواه البخاري ومسلم

Dari Abu abdirrohman Abdulloh bin umar bin al-khottob rodhiyallohu 'anhuma berkata : aku mendengar Rosulullohi shalollohu 'alaihi wasalam berkata :” islam dibangun diatas lima perkara : syahadat bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Alloh dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Alloh, dan menegakkan sholat, dan membayar zakat, dan haji ke al bait (alharom), dan puasa romadhon”. (diriwayatkan oleh imam Al-bukhory dan imam Muslim). *** shohih Bukhory no.8 dan shohih Muslim no. 16. 

Berkata Syaih Utsaimin rohimahullohu Ta’ala (596) : dikatakan bersyahadat apabila mengetahui dengan hatinya, kemudian mengabarkannya dengan ucapan, kemudian memberitahu orang lain. Dan tidak bisa dikatakan seseorang bersyahadat sampai mengumpulkan tiga perkara ini yaitu meyakini, dan mengetahui dengan hati serta mengucapkan. 

Berkata Al Imam Ibnu Daqiq al-Ied rohimahullohu Ta’ala (134) : berkata imam Al qurthuby : lima perkara ini adalah landasan agama islam dan dasar- dasarnya yang diatasnya agama ini dibangun dan ditegakkan. Adapun sebab mengapa lima perkara ini dikhususkan penyebutannya dan tidak dimasukkan jihad didalamnya, padahal jihad adalah sesuatu yang bisa menampakkan agama islam dan menghancurkan penolakan orang- orang kafir, dikarenakan lima perkara ini adalah kewajiban yang terus menerus sedangkan jihad adalah sebagian dari fardhu kifayah bahkan kadang kala terlepas dari fardhu kifayah dibeberapa waktu.

Hadist No : 4
الحديث الرابع
[ عن أبي عبد الرحمن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه قال : حدثنا رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم وهو الصادق المصدوق : إن أحدكم يجمع خلقه في بطن أمه أربعين يوما نطفة ثم يكون علقة مثل ذلك ثم يكون مضغة مثل ذلك ثم يرسل إليه الملك فينفخ فيه الروح ويؤمر بأربع كلمات : بكتب رزقه وأجله وعمله وشقي أو سعيد فو الله الذي لا إله غيره إن أحدكم ليعمل بعمل أهل الجنة حتى ما يكون بينه وبينها إلا ذراع فيسبق عليه الكتاب فيعمل بعمل أهل النار فيدخلها وإن أحدكم ليعمل بعمل أهل النار حتى ما يكون بينه وبينها إلا ذراع فيسبق عليه الكتاب فيعمل بعمل أهل الجنة فيدخلها ] رواه البخاري ومسلم

Dari Abu abdirrohman Abdulloh bin mas’ud rodhiyallohu 'anhu berkata : berbicara kepadaku Rosulullohi shalollohu 'alaihi wasalam dan beliau adalah seseorang yang jujur dan dibenarkan :” sesungguhnya salah seorang dari kalian dikumpulkan penciptaannya didalam perut ibunya selama empat puluh hari dalam bentuk nuthfah (bercampurnya mani laki-laki dengan mani perempuan) kemudian menjadi ‘alaqoh (segumpal darah) selama empat puluh hari, kemudian menjadi mudghoh (segumpal daging)selama empat puluh hari , kemudian diutus malaikat kepadanya dan ditiupkan ruh kepadanya dan diperintahkan untuk menuliskan taqdir dia yang berkaitan dengan empat perkara yaitu rezeki dia, kematian dia, amalan dia, kecelakaan atau kebahagiaan dia. Demi Alloh yang tidak ada sesembahan yang benar kecuali Dia, sesungguhnya salah seorang dari kalian akan melakukan amalan-amalan penghuni surga, sampai tidak ada jarak antara dia dengan surga kecuali satu hasta, kemudian taqdir dia telah mendahuluinya maka berbuatlah dia dengan amalan penghuni neraka sampai akhirnya dia masuk kedalam neraka. Sesungguhnya salah seorang dari kalian akan melakukan amalan-amalan penghuni neraka, sampai tidak ada jarak antara dia dengan neraka kecuali satu hasta, kemudian taqdir dia telah mendahuluinya maka berbuatlah dia dengan amalan penghuni surga sampai akhirnya dia masuk kedalam surga”. (diriwayatkan oleh imam Al-bukhory dan imam Muslim). *** shohih Bukhory no. 3208, shohih Muslim no. 2643. 

Berkata Syaih Utsaimin rohimahullohu Ta’ala (139) : adapun makna (kemudian taqdir dia telah mendahuluinya maka berbuatlah dia dengan amalan penghuni neraka sampai akhirnya dia masuk kedalam neraka) : yakni dia meninggalkan amalan- amalan yang dulu pernah dia lakukan disebabkan adanya sesuatu (yang jelek baik niat dsb) yang dia sembunyikan, (dan kita berlindung kepada Alloh dari hal yang demikian ini), sehingga menggiring dia ke neraka. Dan janganlah kalian berburuk sangka terhadap Alloh Ta’ala, demi Alloh, seseorang yang mendekatkan diri kepada Alloh dengan jujur dan beramal sholeh dengan ikhlas pasti akan Alloh muliakan selama-lamanya dan tidak mungkin Alloh sia- siakan. Alloh lebih mulia dari hambanya, akan tetapi mesti harus ada ujian terhadap hatinya. 

Berkata Al Imam Ibnu Daqiq al-Ied rohimahullohu Ta’ala (148) : faidah dari hadits ini diantaranya adalah untuk seseorang tidak menoleh dan terlalu bergantung kepada amalan –amalan yang telah dia lakukan, bahkan hendaknya menyerahkan diri dia kepada kemurahan dan rohmat Alloh Ta’ala.


سبحانك اللهم ربنا وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت أستغفرك و أتوب إليك

Abu Abdirrohman Utsman Wahyudi Al Indonisiy
(Pengajar Ma'had Daarus Salaf Semarang)


Semarang, 15 Jumadil Awal 1437

Tidak ada komentar:

Posting Komentar