Laman

Selasa, 31 Mei 2016

Fiqih Puasa dan I'tikaf - Pembukaan

كتاب الصيام  
من بلوغ المرام من أدلة الأحكام
للحافظ ابن حجر العسقلاني
بسم الله الرحمن الرحيم

Terjemah buku Fiqih “Bulughul Marom”
 Tentang Puasa
karya Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqolany rohimahullohu Ta'ala,
 dan beberapa penjelasannya.

بِسْمِ اللّهِ الرَّحمنِ الرَّحيمِ

إِنَّ الحمدَ للّه، نحمدُه ونستعينُه ونستغفرُه، ونعوذُ باللّه من شرور أنفسِنا ومن سيِّئات أعمالِنا، من يهده الله فلا مُضِلَّ له، ومن يضلِلْ فلا هادي له، وأشهد أنْ لا إِله إِلا الله وحده لا شريكَ له، وأشهد أنَّ محمداً عبده ورسوله.
"يا أيُّها الذينَ آمنوا اتَّقوا اللّه حقَّ تُقاتِه ولا تَموتُنَّ إلا وأنتُم مُسلمونَ " .
"يا أيها الناس اتَّقوا ربكم الذي خَلَقَكُم من نفسٍ واحدةٍ وخلقَ منها زوجَها وبَثَّ منهُما رِجالاً كثيراً ونساءً واتَّقوا الله الذي تساءَلونَ به والأرْحامَ إِنَّ اللّه كانَ عليكم رَقيباً"
"يا أيها الذينَ آمنوا اتَقوا اللّه وقولوا قولاً سَديداً. يُصْلحْ لكُم أعْمالَكم ويَغْفِرْ لكم ذُنوبكم ومَن يُطِع اللّه ورَسولَه فقد فازَ فوزاً عَظيماً" .
"أما بعدُ؛ فإن أصدقَ الحديثِ كتابُ اللّه، وأحسنَ الهديِ هديُ محمدٍ - صلى الله عليه وسلم -، وشر الأمورِ محدثاتها، وكلَّ محدثةٍ بدعةٌ ، وكل بدعة ضلالةٌ ، وكل ضلالةٍ في النار.

Ash shiyam (puasa)  menurut bahasa al imsak yakni menahan. Adapun menurut definisi syariat adalah menahan dari makan, minum, jima’ (hubungan suami istri) dan selainnya sebagaimana disebutkan didalam syariat, dari terbit fajar sampai tenggelamnya matahari.


1.
 عن أبي هريرة - رضي الله عنه - قال: قال رسول الله - صلى الله عليه وسلم - - لا تقدموا رمضان بصوم يوم ولا يومين, إلا رجل كان يصوم صوما,
 فليصمه - متفق عليه

Dari sahabat Abu huroiroh rodhiyallohu 'anhu beliau berkata, berkata Rosulullohi shalollohu 'alaihi wasalam : “Janganlah kalian mendahului puasa romadhon dengan puasa satu hari atau dua hari sebelumnya, kecuali seseorang yang terbiasa berpuasa kemudian bertepatan dengan hari itu.” Muttafaqun ‘alaihi (diriwayatkan oleh imam Bukhory  no. 1914, dan imam Muslim no. 1082).
Hadits ini menunjukkan tentang haromnya mendahului puasa romadhon dengan berpuasa satu hari atau dua hari sebelumnya kecuali seseorang yang terbiasa melakukan puasa sunah atau nazar atau semisalnya, yang bertepatan hari itu, maka yang demikian diperbolehkan.

2.
وعن عمار بن ياسر - رضي الله عنه - قال: - من صام اليوم الذي يشك فيه فقد عصى أبا القاسم - صلى الله عليه وسلم - - وذكره البخاري تعليقا, ووصله الخمسة, وصححه ابن خزيمة, وابن حبان

Dari sahabat ‘Ammar bin yasir rodhiyallohu 'anhu beliau berkata :”Barang siapa yang berpuasa dihari syak (yang diragukan) maka dia telah bermaksiyat (menyelisihi larangan) kepada Abul qosim yakni Rosulullohi shalollohu 'alaihi wasalam. (disebutkan oleh imam Bukhory tanpa sanad dan yang lima yakni Abu daud, Tirmizy, Nasa i, Ibnu majah dan Ahmad).
Derajat hadits : bukan hadits Nabi shalollohu 'alaihi wasalam akan tetapi ucapan Ammar bin yasir rodhiyallohu 'anhu saja
Perlu diketahui bahwa hari yang diragukan adalah tanggal 30 dibulan Sya’ban (yakni apabila tidak terlihat Bulan dimalam itu dengan sebab awan yang menutupinya dan yang semisalnya, yang mana mungkin masih di bulan Sya’ban atau romadhon).  Hadits ini dan yang semisalnya menunjukkan tentang larangan berpuasa di hari itu. Dan dalam hal ini banyak hadits-hadits yang menunjukkan haramnya berpuasa di hari syak, diantaranya :

3.
     وعن ابن عمر رضي الله عنهما [ قال ]: سمعت رسول الله - صلى الله عليه وسلم - يقول: - إذا رأيتموه فصوموا, وإذا رأيتموه فأفطروا, فإن غم عليكم فاقدروا له - متفق عليه
لمسلم: - فإن أغمي عليكم فاقدروا [ له ] ثلاثين - .
وللبخاري: - فأكملوا العدة ثلاثين

Dari sahabat Abdillah bin umar rodhiyallohu 'anhuma beliau berkata, aku mendengar Rosulullohu shalollohu 'alaihi wasalam berkata :”apabila kalian melihatnya (bulan) maka berpuasalah, apabila kalian melihatnya berbukalah, apabila awan menghalangi penglihatan kalian maka kira-kirakanlah”. Muttafaqun ‘alaihi (diriwayatkan oleh imam Bukhory no. 1900, dan imam Muslim no. 1900). Dan didalam riwayat imam Muslim (no. 1080):”apabila awan menutup kalian maka anggaplah masih tanggal 30 sya’ban”.
Dan didalam riwayat imam Bukhory  (no. 1909): ”sempurnakanlah jumlahnya (bulan sya’ban) menjadi 30”.
Hadits ini menunjukkan wajibnya berpuasa romadhon apabila telah melihat bulan, dan juga wajibnya berbuka (selesai bulan romadhon) apabila melihat bulan diawal bulan syawal.

4.

   وله في حديث أبي هريرة - رضي الله عنه - - فأكملوا عدة شعبان ثلاثين -

Didalam riwayat imam Bukhory dari hadits Abu huroiroh rodhiyallohu 'anhu: 
”sempurnakanlah jumlah bulan sya’ban 30 hari”.

5.
 وعن ابن عمر رضي الله عنهما قال: - تراءى الناس الهلال, فأخبرت رسول الله - صلى الله عليه وسلم - أني رأيته, فصام, وأمر الناس بصيامه
 - رواه أبو داود, وصححه ابن حبان, والحاكم

Dari sahabat Abdulloh bin umar rodhiyallohu 'anhuma beliau berkata : 

“manusia saling melihat bulan kemudian aku memberitahu Nabi shalollohu 'alaihi wasalam bahwa aku melihat bulan, maka Nabi pun berpuasa dan menyuruh manusia berpuasa juga”. 

Diriwayatkan oleh Abu daud dan dishohihkan oleh Al hakim serta Ibnu hiban.
Derajat hadits : hasan/ bagus.
Hadits ini menunjukkan diterimanya kabar dari satu orang yang adil dari kaum muslimin tentang masuknya bulan romadhon.

6.
وعن ابن عباس رضي الله عنهما أن أعرابيا جاء إلى النبي - صلى الله عليه وسلم - فقال: - إني رأيت الهلال, فقال: " أتشهد أن لا إله إلا الله?
 " قال: نعم. قال: " أتشهد أن محمدا رسول الله? " قال: نعم. قال: " فأذن في الناس يا بلال أن يصوموا غدا" - رواه الخمسة, وصححه ابن خزيمة, وابن حبان ورجح النسائي إرساله  .

Dari sahabat Abdulloh bin abbas rodhiyallohu 'anhuma bahwa dia berkata : datang seorang a’raby (pedalaman) kepada Nabi shalollohu 'alaihi wasalam kemudian dia berkata pada Beliau : 
”sesungguhnya aku melihat hilal” maka Beliau berkata :”apakah engkau bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Alloh” berkata a’roby :”iya” berkata Nabi shalollohu 'alaihi wasalam  :”apakah engkau bersaksi bahwa Muhammad utusan Alloh” berkata a’roby :”iya”. Maka berkata Nabi shalollohu 'alaihi wasalam :”beritahukanlah wahai Bilal kepada manusia untuk mereka berpuasa besok”. Diriwayatkan oleh yang lima dan disohihkan oleh Ibnu khuzaimah dan Ibnu hiban, adapun Nasai mengatakan bahwa hadits ini mursal (tidak bersambung/lemah).
Derajat hadits : dho’if /lemah (karena riwayat ‘Ikrimah dari ibnu Abbas rodhiyallohu 'anhuma goncang).


7.
      وعن حفصة أم المؤمنين رضي الله عنها, عن النبي - صلى الله عليه وسلم - قال: - من لم يبيت الصيام قبل الفجر فلا صيام له - رواه الخمسة, ومال النسائي والترمذي إلى ترجيح وقفه, وصححه مرفوعا ابن خزيمة وابن حبان
وللدارقطني: - لا صيام لمن لم يفرضه من الليل - .

Dari sahabiah Hafshoh rodhiyallohu 'anha ummul mukminin sesungguhnya Nabi shalollohu 'alaihi wasalam berkata : ”barangsiapa yang tidak berniat puasa dimalam hari sampai sebelum fajar (subuh) maka tidak sah puasanya”. Diriwayatkan oleh yang lima. Imam tirmizy dan nasai cenderung mengatakan hadits ini adalah ucapan Hafshoh rodhiyallohu 'anha saja, adapun Ibnu khuzaimah dan Ibnu hiban mengatakan bahwa hadits ini adalah perkataan Nabi shalollohu 'alaihi wasalam.

Dan imam Addaruquthny  meriwayatkan :”tidak sah puasa orang yang tidak berniat dimalam harinya”.
Derajat hadits : bukan hadits Nabi shalollohu 'alaihi wasalam akan tetapi ucapan Hafshoh rodhiyallohu 'anha   saja.

Hadits ini menunjukkan tidak sah puasa seseorang sampai dia berniat dimalam harinya sebelum masuk waktu puasa (waktu azan subuh) dikarenakan puasa adalah suatu amalan, dan setiap amalan tergantung dari niatnya. Demikian juga apabila seseorang berniat puasa romadhon di awal bulan romadhon maka ini boleh juga dan sah puasa dia di bulan itu, karena setiap orang tergantung dari niatnya, dan dia sudah berniat puasa romadhon satu bulan penuh.


8.
      وعن عائشة رضي الله عنها قالت: - دخل علي النبي - صلى الله عليه وسلم - ذات يوم. فقال: " هل عندكم شيء? " قلنا: لا. قال: " فإني إذا صائم " ثم أتانا يوما آخر, فقلنا: أهدي لنا حيس, فقال: " أرينيه, فلقد أصبحت صائما " فأكل - رواه مسلم

Dari sahabiah ‘Aisyah rodhiyallohu 'anha beliau berkata : adalah Nabi shalollohu 'alaihi wasalam masuk ke rumahku pada suatu hari, kemudian Nabi berkata :”apakah kalian mempunyai makanan?” maka kami katakana : tidak. Maka Nabi shalollohu 'alaihi wasalam berkata :”kalau demikian aku akan berpuasa”. Kemudian Nabi mendatangi rumah kami lagi pada hari yang lain, lalu kami katakana : kami diberi hadiah oleh seseorang berupa khays (makanan terdiri dari kurma, mentega dan tepung). Maka Nabi shalollohu 'alaihi wasalam berkata :”tunjukkanlah makanan itu kepadaku! Sungguh tadi pagi aku dalam keadaan berpuasa”, kemudian beliau memakannya. (diriwayatkan oleh imam Muslim no. 1154).

Hadits ini menunjukkan bahwa hendaknya seseorang yang ingin berpuasa untuk berniat di malam harinya, dan tidak ada perbedaan apakah puasa itu wajib ataupun sunah.


9.
وعن سهل بن سعد رضي الله عنهما, أن رسول الله - صلى الله عليه وسلم - قال: - لا يزال الناس بخير ما عجلوا الفطر - متفق عليه

Dari sahabat Sahl bi sa’d rodhiyallohu 'anhu beliau berkata, sesungguhnya Rosulullohu shalollohu 'alaihi wasalam berkata :”terus menerus manusia didalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka”. (diriwayatkan oleh imam Al Bukhory no. 1957, dan imam Muslim no. 1098).

Hadits ini menunjukkan tentang disunahkan/ dianjurkan untuk menyegerakan berbuka apabila benar benar melihat matahari terbenam atau mendapatkan berita tentangnya dari orang yang terpercaya.

10.
    وللترمذي: من حديث أبي هريرة - رضي الله عنه - عن النبي - صلى الله عليه وسلم - قال: - قال الله - عز وجل - أحب عبادي إلي أعجلهم فطرا –

Dan didalam riwayat At tirmizy dari hadits Abu huroiroh rodhiyallohu 'anhu bahwa Nabi shalollohu 'alaihi wasalam berkata : ”Alloh subhanahu wata’ala berkata : yang paling aku cintai dari hamba hambaku adalah yang paling cepat berbukanya “.

Derajat hadits : dho’if /lemah (disebabkan salah seorang rowy yang bernama Qurroh bin Abdurrohman munkarul hadits).
Hadits ini menunjukkan bahwa Alloh subhanahu wata’ala lebih mencintai hamba hambanya yang menyegerakan berbuka daripada yang mengakhirkan walaupun hadits ini lemah akan tetapi sesuai dengan hadits sebelumnya.

11.
       وعن أنس بن مالك - رضي الله عنه - قال: قال رسول الله - صلى الله عليه وسلم - - تسحروا فإن في السحور بركة - متفق عليه


Dari sahabat Anas bin malik rodhiyallohu 'anhu berkata, bahwa Nabi shalollohu 'alaihi wasalam berkata :” sahurlah kalian! Sesungguhnya didalam sahur itu ada barokah”. (diriwayatkan oleh Imam Bukhory no. 1923, dan Imam Muslim no. 1095).

Hadits ini secara dhohir menunjukkan tentang wajibnya sahur, akan tetapi para ulama membawa kepada makna anjuran/sunah, dikarenakan adanya hadits yang menunjukkan bolehnya wishol (menyambung puasa ke puasa berikutnya tanpa buka dan sahur) yang dilakukan oleh Nabi shalollohu 'alaihi wasalam. Bahkan Ibnul munzir telah menyebutkan adanya ijma’/ kesepakatan diantara para ulama dalam hal ini (yakni sunahnya sahur).

12.
          وعن سلمان بن عامر الضبي - رضي الله عنه - عن النبي - صلى الله عليه وسلم - قال: - إذا أفطر أحدكم فليفطر على تمر, فإن لم يجد فليفطر على ماء, فإنه طهور - رواه الخمسة, وصححه ابن خزيمة وابن حبان والحاكم


Dari sahabat Salman bin ‘amr adh dhoby rodhiyallohu 'anhu dari Nabi shalollohu 'alaihi wasalam bahwa beliau berkata :”apabila berbuka salah seorang dari kalian hendaknya dengan kurma, apabila tidak ada maka dengan air, karena air itu membersihkan”. (diriwayatkan oleh yang lima dan disohihkan oleh oleh Ibnu khuzaimah dan Ibnu hiban serta Al hakim).
Derajat hadits : dho’if /lemah (disebabkan salah seorang rowy yang bernama Ar Robab bintu Shulai’ majhul/ tidak diketahui keadaannya).

Berkata Ibnul qoyyim : memberikan sesuatu yang manis secara tabiat aslinya (seperti buah kurma) kepada lambung yang kosong lebih mudah untuk menerima dan lebih cepat untuk mengembalikan kekuatan, lebih-lebih kekuatan pandangan.

Adapun air minum sangat bermanfaat juga dikarenakan alat pencernaan pada asalnya adalah dalam keadaan kering ketika berpuasa, apabila dibasahi dengan air minum maka semakin sempurna fungsi alat pencernaan tersebut ketika digunakan untuk mengunyah makanan. Apalagi ternyata didalam kurma dan air minum ada kekhususan yang luar biasa untuk memperbaiki hati seseorang yang tidak seorangpun yang mengetahuinya kecuali para dokter masalah hati.


13.
              وعن أبي هريرة - رضي الله عنه - قال: - نهى رسول الله - صلى الله عليه وسلم - عن الوصال, فقال رجل من المسلمين: فإنك يا رسول الله تواصل? قال: " وأيكم مثلي? إني أبيت يطعمني ربي ويسقيني ". فلما أبوا أن ينتهوا عن الوصال واصل بهم يوما, ثم يوما, ثم رأوا الهلال, فقال: " لو تأخر الهلال لزدتكم " كالمنكل لهم حين أبوا أن ينتهوا - متفق عليه


Dari sahabat Abu huroiroh rodhiyallohu 'anhu beliau berkata : Nabi shalollohu 'alaihi wasalam melarang dari Al wishol. Maka berkata salah seorang dari para sahabat : sesungguhnya engkau melakukan al wishol ya rosululloh? Kemudian Nabi shalollohu 'alaihi wasalam berkata : ”siapa diantara kalian yang seperti aku, sesungguhnya aku tidur dimalam hari sedangkan Robku memberikan aku makan dan minum”.

Ketika para sahabat tidak berhenti dari melakukan wishol maka Nabi shalollohu 'alaihi wasalam melakukan wishol bersama mereka satu hari kemudian menambahnya satu hari lagi, kemudian mereka melihat bulan, lalu Nabi shalollohu 'alaihi wasalam berkata :”kalau sekiranya bulan agak terlambat niscaya aku menambah (wishol) kepada kalian”, seakan akan sebagai hukuman kepada mereka, ketika mereka tidak mau berhenti dari wishol. (muttafaqun ‘alaihi). (diriwayatkan oleh Imam Bukhory no. 1965, dan Imam Muslim no. 1103).

Al wishol adalah meninggalkan makan, minum dan sebagainya yang bisa membatalkan puasa di siang dan malam hari dengan sengaja selama beberapa hari.

Hadits ini menunjukkan larangan melakukan al wishol adapun al wishol sampai waktu sahur maka diperbolehkan sebagaimana disebutkan oleh hadits Abu said al khudry yang diriwayatkan oleh imam Muslim, bahwa Nabi Muhammad shalollohu 'alaihi wasalam berkata :”janganlah kalian melakukan al wishol, apabila kalian ingin melakukan al wishol maka hendaknya dilakukan sampai sahur”.

Adapun makna perkataan Nabi shalollohu 'alaihi wasalam :”siapa diantara kalian yang seperti aku, sesungguhnya aku tidur dimalam hari sedangkan Robku memberikan aku makan dan minum”, menurut imam Ibnul qoyyim adalah : apa-apa yang Alloh ta’ala berikan dari makanan berupa pengetahuan dan segala yang memenuhi hati sehingga merasakan lezatnya beribadah dan manisnya kedekatan dengan Alloh ta’ala, nikmatnya mencintai Nya, rindu untuk bertemu denganNya dan segala sesuatu yang menjadi makanannya hati serta bahagianya ruh dan jiwa. Maka hal hal tersebut adalah paling bagus dan bermanfaat terhadap ruh dan jiwa seseorang sehingga mampu menguatkan badannya, dan mencukupkan diri dari makanan- makanan biasa sampai beberapa waktu lamanya.


14.
              وعنه قال: قال رسول الله - صلى الله عليه وسلم - - من لم يدع قول الزور والعمل به, والجهل, فليس لله حاجة في أن يدع طعامه وشرابه - رواه البخاري, وأبو داود واللفظ له


Dari sahabat Abu huroiroh rodhiyallohu 'anhu berkata : bahwa Nabi shalollohu 'alaihi wasalam berkata :”barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan berbuat dengan kedustaan itu, demikian juga tidak meninggalkan sikap yang bodoh ,maka Alloh Ta’ala tidak butuh kepada amalan dia yang telah meninggalkan makanan dan minuman”. (diriwayatkan oleh imam al Bukhory no. 1903, 6057, dan Imam Abu daud dan bunyi hadits ini dari imam Abu daud –bahkan bunyi hadits dari Al Bukhory-).

Hadits ini menunjukkan tentang haromnya perkataan dusta dan berbuat dengan kedustaan itu, demikian juga sikap yang bodoh, adapun bagi orang yang berpuasa maka lebih ditegaskan. Sebagaimana haromnya perbuatan zina, maka untuk orang yang sudah tua renta lebih ditegaskan, demikian juga kesombongan yang dilakukan oleh orang yang miskin.


15.
              وعن عائشة رضي الله عنها قالت: - كان رسول الله - صلى الله عليه وسلم - يقبل وهو صائم, ويباشر وهو صائم, ولكنه أملككم لإربه - متفق عليه, واللفظ لمسلم وزاد في رواية: - في رمضان -



Dari shohabiah ‘Aisyah rodhiyallohu 'anhuma berkata :”adalah Nabi shalollohu 'alaihi wasalam mencium istrinya dalam keadaan beliau berpuasa dan menyentuh istrinya (dengan tidak menggaulinya) akan tetapi beliau adalah orang yang paling mampu menguasai dirinya dibanding kalian”. Mutafaqun ‘alaihi (diriwayatkan oleh Imam Bukhory no. 1927, dan Imam Muslim no. 1106)., dan ini adalah lafadz Imam Muslim, dan menambah di sebagian riwayat : di Romadhon.

Berkata para ulama : makna hadits ini adalah hendaklah kalian berhati –hati ketika mencium istri kalian dan jangan menganggap diri kalian seperti Rosululloh shalollohu 'alaihi wasalam yang diperbolehkan melakukannya, karena beliau mampu mengendalikan dirinya dan Beliau terjaga/aman dari terjatuh kepada hal-hal yang bias membatalkan puasa seperti keluarnya mania tau dikuasai oleh syahwat, adapun kalian adalah tidak aman dari yang demikian oleh karena itu hendaknya kalian menjauhi perbuatan ini.

Dalam hal ini terjadi perselisihan diantara para ulama hingga mecapai lima pendapat, dan yang benar –wallohu a’lam- adalah boleh bagi yang mampu menguasai dirinya. Demikian juga terjadi khilaf apabila seseorang mencium atau melihat atau menyentuh istrinya kemudian keluar mani atau yang lainnya, apakah wajib bagi dia mengganti puasanya, dan yang benar –wallohu a’lam- adalah tidak ada kewajiban bagi dia untuk mengganti puasa ataupun membayar kafaroh /denda, kecuali apabila menggauli /menjima’i istrinya.


16.
              وعن ابن عباس رضي الله عنهما; - أن النبي - صلى الله عليه وسلم - احتجم وهو محرم, واحتجم وهو صائم - رواه البخاري




Dari sahabat Abdulloh bin abbas rodhiyallohu 'anhuma beliau berkata :sesungguhnya Nabi shalollohu 'alaihi wasalam dibekam dalam keadaam melakukan ihrom, dan beliau dibekam dalam keadaan berpuasa. (diriwayatkan oleh imam Al bukhory no. 1938)

Hadits ini menunjukkan bahwa berbekam tidak membatalkan puasa dan ihrom seseorang.

17.
                    وعن شداد بن أوس - رضي الله عنه - - أن رسول الله - صلى الله عليه وسلم - أتى على رجل بالبقيع وهو يحتجم في رمضان. فقال: " أفطر الحاجم [ والمحجوم ] " - رواه الخمسة إلا الترمذي, وصححه أحمد, وابن خزيمة, وابن حبان

Dari sahabat Syadad bin aus rodhiyallohu 'anhu berkata : bahwa Nabi shalollohu 'alaihi wasalam mendatang seseorang di Baqi’, dalam keadaan orang ini dibekam di bulan Romadhon, maka beliau berkata : “telah batal puasa orang membekam dan yang dibekam”. (diriwayatkan oleh yang lima kecuali tirmizy dan disohihkan oleh Ahmad, Ibnu khuzaimah dan Ibnu hiban). 

Derajat hadits : shohih.

Para ulama berpendapat bahwa hadits Syadad rodhiyallohu 'anhu mansukh /telah dihapus oleh hadits Ibnu abbas rodhiyallohu 'anhuma disebabkan Ibnu abbas rodhiyallohu 'anhuma bersama dengan Nabi shalollohu 'alaihi wasalam ditahun ketika Nabi shalollohu 'alaihi wasalam melakukan haji (tahun 10), adapun Syadad rodhiyallohu 'anhu bersama Nabi shalollohu 'alaihi wasalam ditahun ditaklukkannya Makkah (tahun ke 8), demikian hal ini disebutkan oleh imam Asy syafi’i, bahkan beliau mengatakan untuk berhati-hati dalam hal ini (yakni berbekam) lebih aku sukai.

Berkata al imam Al-baghowy :yang dimaksud adalah bahwa keduanya (orang yang membekam dan yang dibekam) sangat memungkinkan untuk melakukan perbuatan yang bisa membatalkan puasanya”. Adapun orang yang membekam sangat mungkin untuk dia menghisap sebagian darah sehingga masuk ke tenggorokannya, adapun orang yang dibekam sangat mungkin untuk dia menjadi lemas dengan sebab keluarnya darah dia sehingga mendorong dia untuk berbuka.

18.


              وعن أنس بن مالك - رضي الله عنه - قال: - أول ما كرهت الحجامة للصائم; أن جعفر بن أبي طالب احتجم وهو صائم, فمر به النبي - صلى الله عليه وسلم - فقال: " أفطر هذان ", ثم رخص النبي - صلى الله عليه وسلم - بعد في الحجامة للصائم, وكان أنس يحتجم وهو صائم - رواه الدارقطني وقواه


Dari sahabat Anas bin malik rodhiyallohu 'anhu berkata hal pertama yang menjadi sebab tidak disukainya /makruhnya melakukan bekam adalah :bahwa Ja’far bin abi tholib berbekam dalam keadaan berpuasa kemudian Nabi shalollohu 'alaihi wasalam melewatinya seraya berkata :”telah batal puasa dua orang ini”, kemudian Nabi shalollohu 'alaihi wasalam memberikan keringanan /memperbolehkan setelah itu, dan adalah Anas bin malik rodhiyallohu 'anhu berbekam dalam keadaan berpuasa. (diriwayatkan oleh Ad-daroquthny dan menguatkannya).


Derajat hadits : dho’if /lemah (disebabkan salah seorang rowy yang bernama Kholid bin Mukhlad banyak haditsnya yang munkar).


19.
              وعن عائشة رضي الله عنها, - أن النبي - صلى الله عليه وسلم - اكتحل في رمضان, وهو صائم - رواه ابن ماجه بإسناد ضعيف قال الترمذي: لا يصح فيه شيء

Dari sahabiah Aisyah rodhiyallohu 'anha berkata sesungguhnya Nabi shalollohu 'alaihi wasalam: "bercelak dan berpuasa dibulan romadhon". (diriwayatkan oleh Ibnu majah dengan sanad yang lemah). Berkata At-tirmidzy : tidak ada hadits yang shohih dalam masalah ini, dan Imam Asy syafi’i memperbolehkan bercelak untuk orang yang berpuasa karena tidak adanya dalil dalam masalah ini.

Derajat hadits : dho’if /lemah (disebabkan salah seorang rowy yang bernama Sa’id bin Abdul Jabar  adalah seorang kadzab/ pendusta).


20.
              وعن أبي هريرة - رضي الله عنه - قال: قال رسول الله - صلى الله عليه وسلم - - من نسي وهو صائم, فأكل أو شرب, فليتم صومه, فإنما أطعمه الله وسقاه - متفق عليه وللحاكم: - من أفطر في رمضان ناسيا فلا قضاء عليه ولا كفارة - وهو صحيح


Dari sahabat Abu huroiroh rodhiyallohu 'anhu berkata : bahwa Nabi shalollohu 'alaihi wasalam berkata :”barang siapa yang berpuasa kemudian dia makan dan minum dalam keadaan lupa maka hendaknya dia meneruskan puasanya, karena Alloh yang telah memberi dia makan dan minum.” (muttafaqun ‘alaihi) (diriwayatkan oleh Imam Bukhory no. 1933, dan Imam Muslim no. 1155)., dan didalam riwayat Al-hakim  :”barangsiapa yang berbuka di bulan romadhon karena lupa, maka tidak perlu mengganti ataupun membayar kafaroh/ denda).


Derajat hadits : shohih.

Hadits menunjukkan bahwa barangsiapa yang makan atau minum(dan ini yang sering terjadi) atau menggauli istrinya dalam keadaan lupa maka hendaknya dia meneruskan puasanya.

21.
               وعن أبي هريرة قال: قال رسول الله - صلى الله عليه وسلم - - من ذرعه القيء فلا قضاء عليه, ومن استقاء فعليه القضاء -
رواه الخمسة وأعله أحمد وقواه الدارقطني

Dari sahabat Abu huroiroh rodhiyallohu 'anhu berkata : bahwa Nabi shalollohu 'alaihi wasalam berkata :”barang siapa yang tiba-tiba muntah maka tidak perlu mengganti puasanya, dan barangsiapa sengaja untuk muntah maka wajib baginya untuk mengganti puasanya”. (dikuatkan oleh imam yang lima dan dilemahkan oleh imam Ahmad serta dikuatkan oleh imam Ad-daroquthny).
Derajat hadits : dhoif /lemah, karena salah seorang rowy yang bernama Isa bin Yunus salah dalam hal ini.



Akan tetapi Ibnul Mundzir menyenyebutkan dalam bukunya Al Ijma’ bahwa para ulama sepakat tentang apa yang disebutkan dalam hadits ini adalah benar.

Hadits ini menunjukkan bahwa muntah yang tidak sengaja tidak membatalkan puasa, adapun apabila sengaja atau dibuat-buat maka hal itu membatalkan puasa, sebagaimana disebutkan al-imam Ibnu mundzir bahwa para ulama sepakat dalam hal ini.

22.
              وعن جابر بن عبد الله رضي الله عنهما; - أن رسول الله - صلى الله عليه وسلم - خرج عام الفتح إلى مكة في رمضان, فصام حتى بلغ كراع الغميم, فصام الناس, ثم دعا بقدح من ماء فرفعه, حتى نظر الناس إليه, ثم شرب, فقيل له بعد ذلك: إن بعض الناس قد صام. قال: "أولئك العصاة, أولئك العصاة" – وفي لفظ: - فقيل له: إن الناس قد شق عليهم الصيام, وإنما ينظرون فيما فعلت، فدعا بقدح من ماء بعد العصر، فشرب - رواه مسلم



Dari sahabat Jabir bin abdillah rodhiyallohu 'anhuma berkata :sesungguhnya Rosululloh shalollohu 'alaihi wasalam keluar di tahun ditaklukkannya kota Mekah dibulan romadhon dalam keadaan berpuasa sampai melewati Kura’ al-ghoim dan manusiapun berpuasa juga, kemudian beliau meminta cangkir yang berisi air kemudian mengangkatnya sampai manusia bisa melihatnya lalu meminumnya. Kemudian dikatakan kepada beliau :sesungguhnya sebagian manusia masih berpuasa, kemudian beliau shalollohu 'alaihi wasalam berkata :”mereka telah bermaksiyat, mereka telah bermaksiyat”. 

(Dan didalam sebagian lafadz) : ”sesungguhnya manusia merasa berat berpuasa (waktu itu) dan mereka menunggu apa yang akan Engkau lakukan”, maka beliau shalollohu 'alaihi wasalam meminta secangkir air di waktu Asar kemudian beliau shalollohu 'alaihi wasalam meminumnya. (diriwayatkan oleh Imam Muslim no. 1114).

Hadits ini menunjukkan bahwa seorang musafir boleh memilih untuk berpuasa atau berbuka, dan boleh juga untuk berbuka walaupun setelah tengah hari. Adapu perkataan Nabi shalollohu 'alaihi wasalam :”mereka telah bermaksiyat”, adalah dikarenakan mereka telah menyelisihi perintah Nabi shalollohu 'alaihi wasalam yang ditujukan kepada mereka secara khusus.

Adapun menurut imam Asy-sysfi’i dan Abu hanifah Rohimahumalloh bahwa berpuasa itu afdhol bagi seseorang yang bepergian apabila tidak membahayakan dan tidak memberatkan.


23.
              وعن حمزة بن عمرو الأسلمي رضى الله عنه; أنه قال: - يا رسول الله! أجد بي قوة على الصيام في السفر, فهل علي جناح? فقال رسول الله - صلى الله عليه وسلم - " هي رخصة من الله, فمن أخذ بها فحسن, ومن أحب أن يصوم فلا جناح عليه " - رواه مسلم وأصله في " المتفق " من حديث عائشة; - أن حمزة بن عمرو سأل -


Dari sahabat Hamzah bin amr al aslamy rodhiyallohu 'anhu sesungguhnya beliau bertanya kepada Nabi shalollohu 'alaihi wasalam : ya Rosululloh sesungguhnya aku mampu untuk berpuasa didalam safar, apakah aku berdosa apabila melakukannya?, maka berkata Rosululloh shalollohu 'alaihi wasalam : “itu adalah keringanan dari Alloh, barangsiapa yang mengambilnya maka itu adalah bagus, dan barangsiapa yang ingin berpuasa maka dia tidak berdosa”. (diriwayatkan oleh imam Muslim no. 1121, 107, dan asalnya adalah muttafaqu ‘alaihi, diriwayatkan oleh Imam Bukhory no. 1943, dan Imam Muslim no. 1121). dari hadits Aisyah rodhiyallohu 'anhu : bahwa Hamzah bin amr bertanya….)



24.
             وعن ابن عباس -رضي الله عنهما- قال: - رخص للشيخ الكبير أن يفطر, ويطعم عن كل يوم مسكينا, ولا قضاء عليه -
رواه الدارقطني, والحاكم, وصححاه
Dari sahabat Abdulloh bin abbas rodhiyallohu 'anhuma beliau berkata : “diringankan/ dibolehkan bagi orang yang sangat tua untuk tidak berpuasa dan memberi makan setiap harinya satu orang miskin, dan tidak wajib untuk mengganti puasanya”. (diriwayatkan oleh Ad-daroquthny dan Al-hakim dan disohihkan oleh keduanya).


Derajat hadits : shohih, yakni dari perkataan atau ijtihad Abdulloh bin abbas rodhiyallohu 'anhuma dan bukan dari perkataan Nabi shalollohu 'alaihi wasalam.

Faedah :

Orang-orang yang boleh untuk tidak berpuasa di bulan romadhon :

Boleh berbuka dan wajib menggantinya di luar bulan romadhon:
a) Orang yang sakit dan diharapkan bisa sembuh.
b) Orang yang bepergian jauh.
c) Orang yang berbuka karena sakit.
d) Perempuan yang haid dan nifas.
e) Perempuan yang hamil atau menyusui.

25.
              وعن أبي هريرة - رضي الله عنه - قال: - جاء رجل إلى النبي - صلى الله عليه وسلم - فقال: هلكت يا رسول الله. قال: " وما أهلكك ? " قال: وقعت على امرأتي في رمضان، فقال: " هل تجد ما تعتق رقبة? " قال: لا. قال: " فهل تستطيع أن تصوم شهرين متتابعين? " قال: لا. قال: " فهل تجد ما تطعم ستين مسكينا? " قال: لا, ثم جلس, فأتي النبي - صلى الله عليه وسلم - بعرق فيه تمر. فقال: " تصدق بهذا ", فقال: أعلى أفقر منا? فما بين لابتيها أهل بيت أحوج إليه منا, فضحك النبي - صلى الله عليه وسلم - حتى بدت أنيابه، ثم قال: "اذهب فأطعمه أهلك " - رواه السبعة, واللفظ لمسلم

Dari sahabat Abu huroiroh rodhiyallohu 'anhu berkata : datang seorang laki –laki kepada Nabi shalollohu 'alaihi wasalam kemudian dia berkata : aku hancur ya Rosululloh, berkata Nabi shalollohu 'alaihi wasalam :”apa yang membuatmu?”, berkata laki-laki ini : aku menggauli istriku di siang hari bulan romadhon, maka Nabi shalollohu 'alaihi wasalam berkata :”apakah engkau memiliki harta untuk memerdekakan budak?”, maka dia menjawab : tidak, maka Nabi shalollohu 'alaihi wasalam berkata :”apakah engkau mampu untuk berpuasa dua bulan berturut- turut?”, maka dia menjawab : tidak, maka Nabi shalollohu 'alaihi wasalam berkata :”apakah engkau mempunyai sesuatu untuk memberi makan enam puluh orang miskin”, maka dia menjawab : tidak. Lalu orang ini duduk, kemudian Nabi shalollohu 'alaihi wasalam diberi seseorang suatu tempat yang didalamnya ada buah kurma, maka Nabi shalollohu 'alaihi wasalam berkata: ”sedekahlah engkau dengan (buah kurma) ini”, maka dia menjawab : apakah untuk orang yang lebih miskin dari kami?, tidak ada keluarga di daerah ini yang lebih butuh (miskin) kepada buah kurma ini dari keluarga kami.  Maka Nabi shalollohu 'alaihi wasalam tertawa sampai tampak gigi taring beliau kemudian berkata :”pergilah engkau dan berilah makan keluargamu dengan buah kurma ini”. (diriwayatkan oleh yang tujuh - diriwayatkan oleh Imam Bukhory no. 1936, dan Imam Muslim no. 1111-., dan lafadz hadits ini dari sohih Muslim). 

Hadits ini menunjukkan wajibnya membayar kafaroh/ denda sebagaimana disebutkan, bagi orang yang menggauli istrinya di sianghari bulan romadhon dengan sengaja.

26.
              وعن عائشة وأم سلمة رضي الله عنهما - أن النبي - صلى الله عليه وسلم - كان يصبح جنبا من جماع, ثم يغتسل ويصوم -
متفق عليه زاد مسلم في حديث أم سلمة: [ و ] لا يقضي

Dari sahabiah Aisyah dan Ummu salamah rodhiyallohu 'anhuma berkata : adalah Nabi shalollohu 'alaihi wasalam memasuki waktu subuh dalam keadaan junub setelah menggauli istri beliau, kemudian beliau mandi dan berpuasa. (muttafaqun ‘alaihi -diriwayatkan oleh Imam Bukhory no. 1931, 1932, dan Imam Muslim no. 1109-, dan imam Muslim menambahkan di dalam hadits Ummu salamah rodhiyallohu 'anha : dan tidak mengganti puasanya).

Hadits ini menunjukkan sahnya puasa bagi seseorang yang memasuki waktu subuh dalam keadaan junub setelah menggauli istrinya sebelum masuk waktu subuh.

27.
           وعن عائشة رضي الله عنها; أن رسول الله - صلى الله عليه وسلم - قال: - من مات وعليه صيام صام عنه وليه - متفق عليه
Dari sahabiah Aisyah rodhiyallohu 'anha berkata :sesungguhnya Nabi shalollohu 'alaihi wasalam berkata :”barangsiapa yang meninggal dan dia mempunyai hutang puasa, maka hendaknya wali (kerabat) dia berpuasa untuk dia”. (muttafaqun ‘alaihi) (diriwayatkan oleh Imam Bukhory no. 1952, dan Imam Muslim no. 1147).

Berkata syaih Utsaimin rohimahullohu ta’ala :perintah bagi kerabat si mayit ini adalah mustahab /disukai dan bukan wajib, karena apabila kita mengatakan  wajib niscaya kerabat si mayit akan berdosa apabila tidak menggati puasa si mayit, dan hal ini adalah tidak benar sebab Alloh berfirman (dan tidaklah seseorang menanggung dosa orang lain, dan apabila ada seseorang yang memikul beban memanggil orang lain untuk menolong dia memikul beban itu, niscaya tidak akan ada yang mau walaupun dari keluarga dekat dia) –surat al fathir- 18.
            


سبحانك اللهم ربنا وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت أستغفرك و أتوب إليك 


Abu Abdirrohman Utsman Wahyudi Al Indonisiy
(Pengajar Ma'had Daarus Salaf Semarang)


Semarang, 15 Jumadil Awal 1437







Senin, 30 Mei 2016

Dhorurot/ Terpaksa, Definisi dan Batasannya

بِسْمِ اللّهِ الرَّحمنِ الرَّحيمِ

 إِنَّ الحمدَ للّه، نحمدُه ونستعينُه ونستغفرُه، ونعوذُ باللّه من شرور أنفسِنا ومن سيِّئات أعمالِنا، من يهده الله فلا مُضِلَّ له، ومن يضلِلْ فلا هادي له، وأشهد أنْ لا إِله إِلا الله وحده لا شريكَ له، وأشهد أنَّ محمداً عبده ورسوله. "يا أيُّها الذينَ آمنوا اتَّقوا اللّه حقَّ تُقاتِه ولا تَموتُنَّ إلا وأنتُم مُسلمونَ " . "يا أيها الناس اتَّقوا ربكم الذي خَلَقَكُم من نفسٍ واحدةٍ وخلقَ منها زوجَها وبَثَّ منهُما رِجالاً كثيراً ونساءً واتَّقوا الله الذي تساءَلونَ به والأرْحامَ إِنَّ اللّه كانَ عليكم رَقيباً" "يا أيها الذينَ آمنوا اتَقوا اللّه وقولوا قولاً سَديداً. يُصْلحْ لكُم أعْمالَكم ويَغْفِرْ لكم ذُنوبكم ومَن يُطِع اللّه ورَسولَه فقد فازَ فوزاً عَظيماً" . "أما بعدُ؛ فإن أصدقَ الحديثِ كتابُ اللّه، وأحسنَ الهديِ هديُ محمدٍ - صلى الله عليه وسلم -، وشر الأمورِ محدثاتها، وكلَّ محدثةٍ بدعةٌ ، وكل بدعة ضلالةٌ ، وكل ضلالةٍ في النار. 


Dhorurot adalah kebutuhan yang sangat mendesak sekali, didalamnya ada kesulitan dan keterpaksaan yang tidak bisa lari darinya. Akan tetapi sangat disayangkan bahwa sangat banyak dikalangan manusia melakukan hal-hal yang dilarang agama dengan dalih bahwa dia dalam keadaan dhoruroh, bahkan orang-orang yang mengaku-ngaku sebagai salafy, 

Berkata Syaikh Utsaimin: 

ولكن ما هي الضرورة؟ الضرورة أن نعلم أن الإنسان إذا فعل هذا الشيء زالت ضرورته، ونعلم كذلك أنه لا يمكن أن تزول ضرورته إلا بهذا الشيء، يعني ليس هناك ضرورة تبيح المحرم إلا بشرطين: 1/ أن نعلم أنه لا تزول ضرورته إلا بهذا.
2/ أن نعلم أن ضرورته تزول به.
ولهذا إذا كان الإنسان يخاف الموت، فله أن يأكل ميتة لتوفر الشرطين السابقين، أما هؤلاء فليت هناك ضرورة تدفعهم لفعل هذا الشيء المحرم.

"Akan tetapi apa itu dhoruroh : dhoruroh adalah bahwa kita mengetahui apabila seseorang melakukan sesuatu perbuatan maka akan hilang kesulitannya dan kita mengetahui bahwa tidak mungkin untuk menghilangkan kesulitan itu kecuali dengan perbuatan itu, yakni disana tidak ada dhoruroh kecuali apabila ada dua syarat : Pertama: kita ketahui bahwa tidak hilang kesulitan itu kecuali dengannya. Kedua : kita ketahui bahwa kesulitan itu hilang dengannya. Oleh karena apabila seseorang takut untuk terjatuh kepada kematian maka hendaknya dia memakan bangkai (maitah) karena telah terpenuhi padanya dua syarat tersebut.” Apabila seseorang terjatuh didalam keadaan dhoruroh (terpaksa) maka dia akan masuk kedalam hukum yang lain yang dikenal didalam dua kaidah Ushul Fiqh yaitu : Kaidah pertama : addhorurat membolehkan hal-hal yang dilarang. Kaidah kedua : diambil hal-hal yang dilarang itu sesuai kadar dhorurohnya."

Berkata al imam As sa'dy di dalam Qowaidnya: 
ولا محرم مع اضطرار 
"Dan tidak ada keharoman apabila dalam keadaan dhorurot," 
وكل محظورٍ مع الضرورة ... بقدرِ ما تحتاجُهُ الضرورة 
"Dan setiap yang dilarang bersamaan dengan dhoruroh….. Boleh untuk ditempuh sekadar ukuran dhorurohnya."
Penjelasan:

Kaidah pertama : addhorurat membolehkan hal-hal yang dilarang. Sesungguhnya Alloh Subhanahu wa Ta'ala apabila melarang sesuatu perbuatan, kemudian ada seorang hamba dalam keadaan terpaksa/dhorurot, maka keadaan yang seperti ini bisa menjadikan sesuatu yang harom menjadi mubah atau boleh bahkan bisa meningkat kepada derajat wajib. Dalilnya firman Alloh Subhanahu wa Ta'ala

{ حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ إِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ وَأَنْ تَسْتَقْسِمُوا بِالْأَزْلامِ ذَلِكُمْ فِسْقٌ الْيَوْمَ يَئِسَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ دِينِكُمْ فَلا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِ الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْأِسْلامَ دِيناً فَمَنِ اضْطُرَّ فِي مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لإِثْمٍ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ }  
"Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam ituj Jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (al Maidah : 3)

Dan juga : 
 { إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلا عَادٍ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ} . 

"Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan atasmu (memakan) bangkai, darah, daging babi dan apa yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah; tetapi Barangsiapa yang terpaksa memakannya dengan tidak Menganiaya dan tidak pula melampaui batas, Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (an Nahl:115) 

Dan juga : 
{ قُلْ لا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّماً عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلَّا أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَماً مَسْفُوحاً أَوْ لَحْمَ خِنْزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ أَوْ فِسْقاً أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلا عَادٍ فَإِنَّ رَبَّكَ غَفُورٌ رَحِيمٌ} .

Katakanlah: "Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaKu, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi - karena Sesungguhnya semua itu kotor - atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. Barangsiapa yang dalam Keadaan terpaksa, sedang Dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, Maka Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang".(al An'am :145) 
Dan masih banyak ayat yang menjelaskan tentang hal ini. 


Kaidah kedua : diambil hal-hal yang dilarang itu sesuai kadar dhorurohnya. 
وكل محظورٍ مع الضرورة ... بقدرِ ما تحتاجُهُ الضرورة 
"Dan setiap yang dilarang bersamaan dengan dhoruroh….. Boleh untuk ditempuh sekadar ukuran dhorurohnya."

Maksudnya adalah –wallohu a’lam- : Bahwa setiap apa-apa yang diperbolehkan karena dhoruroh dari perbuatan atau meninggalkan perbuatan, dilakukan sekadar apa yang hilang dengannya bahaya/dhoror tersebut dan tidak boleh lebih dari itu, apalagi terus-menerus berkecimpung didalam sesuatu yang diharomkan tersebut, walaupun dengan alasan karena dhoruroh. Dalilnya adalah firman Alloh Subhanahu wa Ta'ala : 
{ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلا عَادٍ فَلا إِثْمَ عَلَيْهِ } 
"Maka Barangsiapa yang terpaksa memakannya dengan tidak Menganiaya dan tidak pula melampaui batas, Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."(an Nahl: 115) .

 "غير باغ" 
"Yakni tidak mengharap hal yang diharomkan itu secara dzatnya akan tetapi sekedar untuk menghilangkan mudhorot itu." 
 "ولا عاد" 
"Yakni tidak melebihi kadar yang melebihi batasan dhoruroh itu." 

Demikian definisi dan batasan dhorurot (terpaksa) semoga kita tidak terjatuh kepada sikap meremehkan atau bergampang-gampang didalam permasalahan agama. 

-Penutup-

Demikian akhir dari tulisan ini kami buat, semoga bermanfaat untuk penulis dan pembaca. Dan penulis meminta ampun kepada Alloh Subhanahu wa Ta'ala atas segala kesalahan yang penulis buat. Berkata Imam Ibnul Qoyim rohimahullohu Ta'ala didalam bukunya Al kaafiyah asy syaafiyah fil intishaari lil firqotin naajiyah (al qoshiidah an nuuniyah):

 يا رب غفرا قد طغت أقلامنا ... يا رب معذرة من الطغيان 
"Wahai robku mohon ampun atas tergelincirnya penaku Wahai robku mohon 'udzur dari ketergelinciranku."
 سبحانك اللهم ربنا وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت أستغفرك و أتوب إليك 



Abu Abdirrohman Utsman Wahyudi Al Indonisiy
(Pengajar Ma'had Daarus Salaf Semarang)

 Semarang, 15 Jumadil Awal 1437

Sabtu, 28 Mei 2016

Saya Seorang Salafy

بِسْمِ اللّهِ الرَّحمنِ الرَّحيمِ

إِنَّ الحمدَ للّه، نحمدُه ونستعينُه ونستغفرُه، ونعوذُ باللّه من شرور أنفسِنا ومن سيِّئات أعمالِنا، من يهده الله فلا مُضِلَّ له، ومن يضلِلْ فلا هادي له، وأشهد أنْ لا إِله إِلا الله وحده لا شريكَ له، وأشهد أنَّ محمداً عبده ورسوله.
"يا أيُّها الذينَ آمنوا اتَّقوا اللّه حقَّ تُقاتِه ولا تَموتُنَّ إلا وأنتُم مُسلمونَ " .
"يا أيها الناس اتَّقوا ربكم الذي خَلَقَكُم من نفسٍ واحدةٍ وخلقَ منها زوجَها وبَثَّ منهُما رِجالاً كثيراً ونساءً واتَّقوا الله الذي تساءَلونَ به والأرْحامَ إِنَّ اللّه كانَ عليكم رَقيباً"
"يا أيها الذينَ آمنوا اتَقوا اللّه وقولوا قولاً سَديداً. يُصْلحْ لكُم أعْمالَكم ويَغْفِرْ لكم ذُنوبكم ومَن يُطِع اللّه ورَسولَه فقد فازَ فوزاً عَظيماً" .
"أما بعدُ؛ فإن أصدقَ الحديثِ كتابُ اللّه، وأحسنَ الهديِ هديُ محمدٍ - صلى الله عليه وسلم -، وشر الأمورِ محدثاتها، وكلَّ محدثةٍ بدعةٌ ، وكل بدعة ضلالةٌ ، وكل ضلالةٍ في النار.


“SAYA adalah  SALAFY”
Penisbatan yang Benar.



Berikut ini fatwa-fatwa para ulama yang menganjurkan /membolehkan untuk mengatakan:  “saya adalah salafy”:


1.  Asy syaih Al-albany rohimahullohu Ta'ala :

إن كلمة السلف معروفة في لغة العرب وفي لغة الشرع؛ وما يهمنا هنا هو بحثها من الناحية الشرعية:

Sesungguhnya kata “as salaf” telah dikenal didalam bahasa arab dan juga didalam 
bahasa/istilah syariat. Adapun pembahasan kita sekarang adalah dari sisi syariat.

فقد صح عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال في مرض موته للسيدة فاطمة رضي الله عنها:" فاتقي الله و اصبري ونعم السلف أنا لك ".
Maka telah shohih dari nabi shalollohu 'alaihi wasalam bahwa beliau berkata ketika sakit sebelum meninggal kepada sayidah fathimah rodhiyallohu 'anha :”bertaqwalah engkau kepada Alloh dan bersabarlah, dan sesungguhnya sebaik-baik salaf (pendahulu) bagi 
engkau adalah aku.”

ويكثر استعمال العلماء لكلمة السلف، وهذا أكثر من أن يعد ويحصى، وحسبنا مثالا واحدا وهو ما يحتجون به في محاربة البدع:
وكل خير في إتباع من سلف ** وكل شر في ابتداع من خلف

Dan sangat banyak dari para ulama yang menggunakan kata assalaf, dan tidak mampu untuk dihitung banyaknya, dan cukup satu contoh disini yang mana para ulama biasa menyebutkannya untuk menghadapi kebid’ahan:
                                             Dan setiap kebaikan dengan mengikuti salaf
      Dan setiap kejelekan dari kebid’ahan orang belakangan.

…فلا يجوز لمسلم أن يتبرأ من الانتساب الى السلف الصالح…

Maka tidak boleh untuk seorang muslim menolak untuk dikatakan sebagai pengikut salafus sholeh…

…وأما الذي ينتسب الى السلف الصالح، فإنه ينتسب الى العصمة-على وجه العموم-؟، وقد ذكر النبي من علامات الفرقة الناجية أنها تتمسك بما كان عليه رسول الله صلى الله عليه وسلم وما كان عليه أصحابه.
فمن تمسك بهم كان يقينا على هدى من ربه.

Adapun orang yang menyandarkan diri kepada salafus sholeh, maka sesungguhnya dia menyandarkan dirinya kepada sesuatu yang tidak akan salah (ma’shum) –secara umum-. Dan Nabi shalollohu 'alaihi wasalam telah menyebutkan diantara tanda-tanda kelompok yang selamat (firqoh an najiyah) adalah berpegangnya dia dengan apa-apa yang ada 
padanya Rosulullohi shalollohu 'alaihi wasalam dan para sahabatnya.
Barang siapa yang berpegang dengannya maka sudah pasti akan diatas petunjuk dari 
Robnya (Alloh Ta’ala).    

وهي نسبة تشرف المنتسب إليها وتيسر له سبيل الفرقة الناجية، وليس ذلك لمن ينتسب أية نسبة أخرى، لأنها لا تعدو واحدا من أمرين: إما انتسابا الى شخص غير معصوم، أو الى الذين يتبعون منهج هذا الشخص غير المعصوم….

Dan dia adalah penyandaran yang menjadi mulia orang yang mau bersandar dengannya, dan akan mudah bagi dia untuk menempuh jalannya kelompok yang selamat, dan tidaklah yang demikian ini didapatkan oleh orang-orang yang bersandar kepada yang lainnya.
Karena (kelompok-kelompok yang bersandar kepada selain salafus sholeh) tidak akan lepas dari dua perkara, yang pertama : mungkin bersandar kepada seseorang yang bukan ma’shum  (terlindungi dari kesalahan), atau mungkin bersandar kepada orang-orang yang mengikuti metode/manhaj orang yang tidak ma’shum.

ولا بد من نسبة مميزة دقيقة في هذا الزمان، فلا يكفي أن نقول: أنا مسلم فقط ! أو مذهبي الاسلام ! فكل الفرق تقول ذلك: الرافضي والاباضي والقادياني وغيرهم من الفرق !! فما الذي يميزك عنهم ؟

Dan hendaknya untuk menisbahkan/menyandarkan diri kepada sesuatu yang membedakan dengan yang lain di zaman ini, maka tidaklah cukup untuk mengatakan “saya muslim” saja, atau “madzhabku islam”. Setiap kelompok mengatakan yang demikian juga, seperti rofidhoh, ibadhiyah, qodiyaniy, dan selainnya dari kelompok-kelompok. Maka apa yang bisa membedakan engkau dengan mereka?

ولو قلت: أنا مسلم على الكتاب والسنة لما كفى أيضا، لأن أصحاب الفرق-من أشاعرة ومانريدية وحزبيين- يدعون إتباع هذين الأصلين كذلك.

Kalau sekiranya engkau mengatakan “saya muslim diatas kitab dan sunnah”, maka yang demikian tidak cukup juga, karena kelompok-kelompok seperti asyaa’iroh, maturidiyah dan hizbiyin/ golongan-golongan, mereka semua mengaku juga sebagai pengikut dua 
landasan yang asli ini juga.

ولا شك أن التسمية الواضحة الجلية المميزة البينة هي أن نقول : أنا مسلم على الكتاب والسنة وعلى منهج سلفنا الصالح وهي أن نقول باختصار :"أنا سلفي".

Dan tidak ada keraguan bahwa penamaan yang jelas yang mampu membedakan dengan gamblang adalah dengan kita mengatakan : “saya muslim berpedoman dengan kitab dan sunnah diatas manhaj/metode salaf kami yang sholeh”, yang mana cukup untuk kita 
mengatakan dengan ringkas :” saya salafy”.

فحسبكم هذا التفاوت بيننا
وكل إناء بما فيه ينضح
Maka cukuplah perbedaan ini diantara kita.
Dan setiap bejana akan menuangkan apa yang ada padanya.
 (di nukil dari majalah al-asholah 9/86)


2. Syaikhul islam Ibnu Taimiyyah rohimahullohu Ta'ala :

((لا عيبَ على من أظهر مذهب السلف، وانتسب إليه، واعتزى إليه؛ بل يجب قَبول ذلك منه اتفاقا؛ فإن مذهب السلف لا يكون إلا حقا ) 

Tidaklah jelek bagi seseorang yang menampakkan madzhab salaf, menisbahkan dan menyandarkan dirinya kepada salaf,  bahkan wajib menerima hal yang demikian, -yang sepakat padanya (para ulama)-, karena madzhab salaf  tidaklah keadaan dia kecuali benar.
 (Dari Majmu’ al fatawa jilid 4 /149)

3. Berkata asy syaih Abdul ‘Azis  bin baz rohimahullohu Ta'ala :

 (إذا كان صادقاً أنه أثري أو أنه سلفي لا بأس، مثل ما كان السلف يقول: فلان سلفي، فلان أثري، تزكية لا بد منها، تزكية واجبة(

Apabila dia jujur bahwa dia seorang atsary (yang mengikuti dalil) atau seorang salafy, maka tidak mengapa. Seperti apa yang ada di zaman salaf/terdahulu, dengan panggilan : fulan salafy, fulan atsary, sebuah pujian yang mesti padanya, sebuah pujian yang wajib. 
(dinukil dari muhadhoroh “haqul muslim”)

4. Berkata asy syaih Muhamad bin Sholih al ‘Utsaimin rohimahullohu Ta'ala :

قال العلامة الشيخ محمد بن صالح العثيمين رحمه الله تعالى " فأهل السنة والجماعة هم السلف معتقداً حتى المتأخر إلى يوم القيامة إذا كان على طريق النبي صلى الله عليه وسلم وأصحابه فإنه سلفي " .

Maka ahlus sunnah wal jama’ah mereka adalah as-salaf secara aqidah bahkan untuk orang-orang yang terakhir sampai hari kiamat, apabila diatas jalannya Nabi shalollohu 'alaihi wasalam dan para sahabatnya rodhiyallohu 'anhum, maka sesungguhnya dia adalah Salafy.
(dari syarah Aqidah al wasithiyyah, jilid 1 / 45)


5. Fatwa al Lajnah ad Daimah :

السلف هم أهل السنة والجماعة المتبعون لمحمد صلى الله عليه وسلم من الصحابة رضي الله عنهم ومن سار على نهجهم إلى يوم القيامة .

Disebutkan di dalam fatwa al lajnah daimah no 6149:
As salaf, mereka adalah ahlus sunnah wal jama’ah yang mengikuti Muhamad shalollohu 'alaihi wasalam, dari para sohabat rodhiyallohu 'anhum dan orang-orang yang berjalan diatas jalan (metodenya) sampai hari kiamat . 

6. Berkata Asy syaih Sholeh bin Fauzan Al fauzan hafidzohullohu Ta'ala :

المقصود بالمذهب السّلفي هو ما كان عليه سلف هذه الأمة من الصحابة والتابعين والأئمة المعتبرين من الاعتقاد الصّحيح والمنهج السّليم والإيمان الصّادق والتمسُّك بالإسلام عقيدة وشريعة وأدبًا وسلوكًا؛ خلاف ما عليه المبتدعة والمنحرفون والمخرِّفون . ومن أبرز من دعا إلى مذهب السّلف الأئمة الأربعة، وشيخ الإسلام ابن تيميَّة، وتلاميذه، والشيخ محمد بن عبد الوهَّاب، وتلاميذه، وغيرهم من كلّ مصلح ومجدِّد، حيث لا يخلو زمان من قائم لله بحجَّةٍ . ولا بأس من تسميتهم بأهل السنة والجماعة؛ فرقًا بينهم وبين أصحاب المذاهب المنحرفة . وليس هذا تزكية للنفس، وإنما هو من التمييز بين أهل الحق وأهل الباطل . ( المنتقى من فتاوى الفوزان 1/352-353

Maksud dari madzhab As salafy adalah apa yang sesuai dengan keadaan salaf/orang terdahulu dari umat ini di kalangan para sahabat dan para tabi’in serta imam-imam yang terpercaya, baik dalam hal aqidah yang benar, manhaj yang selamat, iman yang benar, dan berpegang dengan islam secara syariah, adab, dan cara beribadah. Yang semua ini adalah menyelesihi orang-orang yang suka berbuat bid’ah, dan suka menyimpang serta suka merubah-rubah. Dan diantara ulama-ulama yang paling menonjol berdakwah kepada manhaj salaf imam-imam yang empat (Imam Ahmad, Imam Syafi’i, Imam Malik, Imam Abu Hanifah), syaikhul islam Ibnu Taimiyyah, dan murid-muridnya, Asy syaih Muhamad bin Abdul Wahab dan murid-muridnya, serta yang selain mereka rohimahumullohu Ta'ala dari setiap orang yang memperbaiki dan memperbaharui, yang  mana tidak akan pernah kosong dari suatu zaman dari orang yang berdiri diatas hujah kebenaran karena Alloh. Dan tidak mengapa untuk memberi  nama mereka dengan Ahlus sunnah wal jama’ah, untuk membedakan antara mereka dengan para pemilik madzhab-madzhab yang sesat, dan bukanlah ini untuk memuji diri, hanya saja ini adalah untuk membedakan antara ahlul haq dan ahlul bathil. 
(dari Al Muntaqo dari fatwa-fatwa Al Fauzan jilid 1 hal 352)

7. Berkata Asy syaih Muqbil bin Hadi Alwadi’i rohimahullohu Ta'ala:

 ( أمر طيب سواء انتسبت إلى السلفية أم السنة ...وهذه النسبة ليست كنسبة الحزبيين ..) شريط (التحذير من البدع(

Sesuatu yang bagus, sama saja engkau menyandarkan dirimu kepada as-salafiyah atau kepada as-sunnah… dan ini adalah penyandaran yang tidak seperti para hizbiyiin/ kelompok-kelompok.
(dari kaset peringatan dari bid’ah)

8. Berkata Asy Syaih Muhamad Aman Al Jamy rohimahullohu Ta'ala :

ويتضح مما تقدم أن مدلول السلفية أصبح اصطلاحاً معروفاً يطلق على طريقة الرعيل الأول ومن يقتدون بهم في تلقي العلم

Dari penjelasan yang telah lewat menunjukkan bahwa (kalimat) As-salafiyah menjadi istilah yang dikenal, dimaksudkan atas suatu jalan generasi yang awal demikian juga jalannya orang-orang yang mengikuti mereka di dalam mengambil ilmu”.
(disebutkan di ash shifat al ilahiyah 64)

9. Berkata Asy syaih Ahmad bin Yahya An Najmy rohimahullohu Ta'ala :

والسلف هم أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم والتابعون لهم بإحسان من أهل القرون الثلاثة المفضلة فمن بعدهم . هذه هي السلفية ، والانتماء إليها معناه هو الانتماء إلى ما كان عليه أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم وإلى طريقة أهل الحديث ،

Dan As salaf mereka adalah para sahabat Rosulullohi shalollohu 'alaihi wasalam dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik baik dari  tiga kurun yang utama maupun yang setelahnya, maka ini adalah salafiyah. Adapun menyandarkan diri kepada mereka maknanya adalah menyandarkan diri kepada apa-apa yang ada padanya para sahabat Rosulullohi shalollohu 'alaihi wasalam dan kepada jalannya ahlul hadits.
(dari al fataawaa al jaliyah) 

10. Berkata al imam Adz Dzahaby rohimahullohu Ta'ala :

(وصح عن الدارقطني أنه قال : "ما شيء أبغض إليَّ من علم الكلام . قلتُ -أي الذهبي- لم يدخلِ الرجلُ أبداً في علم الكلامِ ولا الجدالِ ولا خاضَ في ذلك بل كان سلفيًّا) .

Berkata al imam Adz Dzahaby rohimahullohu Ta'ala : 
Benar bahwa Ad Daroquthny pernah mengatakan “tidak ada sesuatu yang lebih aku benci dari ilmu kalam”. Maka aku katakan –yakni Adz Dzahaby berkata- : “tidaklah masuk orang ini (yakni Ad Daroquthny) selamanya di dalam ilmu kalam demikian juga ilmu jidal dan tidak juga bergelut padanya, bahkan dia adalah seorang salafy”.  
(disebutkan di as-Siyar 16/457, di biografi Ad Daroquthny)

11. Berkata Asy Syaih Yahya bin Ali Al-hajury hafidzohullohu Ta’ala :

فإذا قيل لك : ما عقيدتك ؟ فقل : أنا سنِّيٌّ سلفيٌّ ، والدليل حديث العرباض بن سارية رضي الله تعالى عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء المهديين الراشدين تمسكوا بها وعضوا عليها بالنواجذ وإياكم ومحدثات الأمور فإن كل محدثة بدعة و كل بدعة ضلالة ] أخرجه أبو داود وغيره,وهو حديث حسن.

Apabila dikatakan kepada engkau : Apa aqidahmu? Maka jawablah : Aku (Aqidahku) adalah sunny salafy. Dalilnya adalah hadits Al ‘Irbadh bin Sariyah rodhiyallohu 'anhu berkata : Bahwa Nabi shalollohu 'alaihi wasalam berkata :” Maka hendaknya kalian berpegang kepada sunahku dan sunahnya al-kholifah ar rosyidin yang mendapatkan petunjuk. Berpeganglah dengannya dan gigitlah/pegangilah padanya dengan gigi gerahammu. Hati-hatilah kalian dari perkara-perkara yang baru/dibuat-buat , karena setiap perkara yang baru adalah bid’ah, dan setiap yang bid’ah adalah sesat”.

Dikeluarkan oleh Abu Daud dan yang lainnya, dan haditsnya hasan.

(dinukil dari buku “al mabadii al mufidah, halaman 12)

Sebagian nukilan ini bersumber dari buku “ath thuhfah al mahdiyah”.


-- Penutup --

Demikian akhir dari tulisan ini kami buat, semoga bermanfaat untuk penulis dan pembaca.
Dan penulis meminta ampun kepada Alloh Subhanahu wa Ta'ala atas segala kesalahan yang penulis buat.

Berkata Imam Ibnul Qoyim rohimahullohu Ta'ala  didalam bukunya Al kaafiyah asy syaafiyah fil intishaari lil firqotin naajiyah (al qoshiidah an nuuniyah):


  "Wahai robku mohon ampun atas tergelincirnya penaku,
Wahai robku mohon 'udzur dari ketergelinciranku".

سبحانك اللهم ربنا وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت أستغفرك و أتوب إليك


Abu Abdirrohman Utsman Wahyudi Al Indonisiy
(Pengajar Ma'had Daarus Salaf Semarang)


Semarang, 15 Jumadil Awal 1437

Minggu, 08 Mei 2016

Aqidah Tohawiyah, Bab Iman Kepada Isro' Mi'roj, Telaga, dan Safaat Nabi Muhammad

Silahkan simak dan download kajian Aqidah yang disampaikan oleh  Ustadz Abu Abdirrohman Utsman Wahyudi di Masjid Daarus Salaf Bukit Kencana Meteseh Semarang 

Ringkasan Pembahasan (Bagian -1) :
  • Iman kepada peristiwa Isro' Mi'roj Nabi Muhammad.
  • Iman kepada Telaga.
  • Iman kepada Safa'at Nabi Muhammad.
  • Nabi Muhammad melihat Allah dengan hatinya.

Rekaman :
[1:07:20 | 13 MB] - Download



Ringkasan Pembahasan (Bagian -2) :

  • Perjanjian yang Allah ambil antara Nabi Adam dan keturunanannya.
  • Iman tentang Ilmu Allah.
  • Allah telah menentukan jumlah manusia yg masuk surga & neraka.
  • Bukankan Allah telah menentukan seseorang masuk surga atau neraka, lantas buat apa kita beramal ?
  • Amalan itu tergantung dari akhirnya.
  • Kisah-kisah sahabat dan para ulama di akhir amalnya.


Rekaman :
[32:19 | 6 MB] -  Download

Kamis, 05 Mei 2016

Kalian adalah saksi-saksi Allah dimuka Bumi

Penjelasan dari Imam An Nawawi hadist dari Anas Bin Malik tentang sabda Nabi : "Kalian adalah saksi-saksi Allah dimuka Bumi".

Audio :
Download

Jumat, 29 April 2016

Kitab Fathul Baari - Bab Permulaan Turunnya Wahyu

Silahkan simak dan download kajian Kitab Fathul Baari yang disampaikan oleh  Ustadz Abu Abdirrohman Utsman Wahyudi di Masjid Daarus Salaf Bukit Kencana Meteseh Semarang.

Ringkasan Pembahasan :
Imam Bukhori memulai kitabnya dengan bacaan basmalah.

Allah berfirman dalam Al Qur'an :

        إِنَّآ أَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡكَ كَمَآ أَوۡحَيۡنَآ إِلَىٰ نُوحٍ وَٱلنَّبِيِّـۧنَ مِنۢ بَعۡدِهِ


“Sesungguhnya Kami menurunkan wahyu kepadamu (Muhammad) seperti Kami  menurunkan wahyu kepada Nabi Nuh dan nabi-nabi setelahnya.” (Qs. An-Nisaa’ (4): 163)


Penjelasan Ibnu Hajar dalam kitabnya "kenapa disebutkan ayat ini dan didahulukan Nabi Nuh ?", Karena Nabi Nuh adalah rasul yang pertama.




Rekaman :
Download - (7 Mb)

Jumat, 15 April 2016

Sharah Shohih Muslim - Mukodimah

Silahkan simak dan download kajian Kitab Sharah Shohih Muslim yang disampaikan oleh  Ustadz Abu Abdirrohman Utsman Wahyudi di Masjid Daarus Salaf Bukit Kencana Meteseh Semarang.


Ringkasan Pembahasan :

  • Total hadist Shahih Muslim
  • Bab wajibnya meriwayatkan hadist dari orang-orang yang terpecaya dan meninggalkan perkataan yang dusta.

  • Bab Bahayanya berdusta atas nama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

  • Kisah Khalifah Harun Ar Rosyid yang mencoba menyamai majelis ilmunya Abdulloh bin Mubarok.


Rekaman :
Download (4.8 MB)